
Menitsembilan, Subang – Program Revitalisasi Sekolah yang seharusnya menjadi oase bagi dunia pendidikan di Kabupaten Subang, kini justru berubah menjadi potret buram. Alih-alih menghadirkan bangunan yang layak dan aman untuk anak didik, program ratusan miliar yang bersumber dari pajak rakyat ini diduga menjadi bancakan berjamaah.
Fakta di lapangan sungguh memprihatinkan. Investigasi tim Menitsembilan di beberapa titik, mulai dari PAUD/TK, Sekolah-Sekolah dan SMP di seluruh Kecamatan Yang Ada di Kabupaten Subang 70% mensiasati pola yang sama, belanja material yang di arahkan ke salahsatu toko di Siplah oleh oknum, potongan fee hingga 20% oleh oknum yang seolah jasa Pahlawan terealisasinya anggaran Revitalisasi.
Pengerjaan yang seharusnya swakelola oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) bersama komite dan masyarakat, diduga kuat diborongkan kepada pihak ketiga. Prinsip pemberdayaan dan transparansi pun hilang.
Lebih parahnya lagi, pembongkaran gedung sekolah yang merupakan Barang Milik Daerah (BMD) diduga dilakukan tanpa SK Penghapusan Aset dari Bupati. Ini jelas melanggar Permendagri No. 19 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Subang, Hendra Boeng, sudah bersuara lantang mengingatkan akan brutal dan cacat prosedurnya revitalisasi ini. Namun suara itu seolah tenggelam di tengah sikap diam dari dinas terkait.
Sikap diam inilah yang paling berbahaya. Ketika Komisi IV DPRD yang membidangi pendidikan bungkam, ketika surat audiensi LSM Trinusa DPC Subang yang sudah sebulan dilayangkan untuk mencari solusi diulur-ulur dengan alasan rapat dan kunker, dan ketika Dinas Pendidikan serta Inspektorat tutup mata, maka saat itulah anggaran pajak rakyat benar-benar digrogoti.
Diamnya pengawas sama dengan merestui. Diamnya dinas sama dengan membiarkan kualitas bekas untuk anak bangsa.
Revitalisasi seharusnya membangun harapan, bukan membangun kerugian negara. Jika Komisi IV DPRD diduga terafiliasi dengan proyek jalur Pokir revitalisasi, wajar jika mereka takut bersuara. Tapi ingat, yang dipertaruhkan adalah keselamatan siswa dan masa depan pendidikan Subang.
Publik Subang kini menunggu, sampai kapan potret buram ini akan terus dipelihara oleh sikap diam.
—Boby Ramadan





