
Menitsembilan, Subang – Jika ada penghargaan untuk lakon drama terbaik tahun ini, maka judulnya adalah Revitalisasi Sekolah di Subang. Lakon ini gentayangan, terstruktur dan sistematis. Pemainnya rapi, sutradaranya tak terlihat, tapi hasilnya kasat mata, bangunan asal jadi di kerjakan pihak ketiga, kualitas bekas.
Skenarionya dimulai dengan Bimtek di hotel berbintang. Di atas kertas, semua diajarkan tentang swakelola, tentang P2SP, tentang pemberdayaan masyarakat, tentang Perpres Presiden Prabowo yang mewajibkan gotong royong.
Tapi begitu keluar dari pintu hotel, naskah aslinya baru dibagikan. P2SP tiba-tiba hanya jadi simbol, stempel dan tanda tangan. Pemeran utama yang sesungguhnya datang dari luar, perusahaan besar dari luar kota, pemborong yang sudah dikondisikan.
Lalu adegan bongkar gedung dimulai. Gedung milik daerah yang seharusnya butuh SK Bupati untuk dibongkar, dihajar begitu saja tanpa permisi. Permendagri No. 19 Tahun 2016 dilipat dan disimpan di laci. Toh tidak ada yang menegur. DPRD diam, Dinas diam, Inspektorat diam.
Puncaknya ada di SDN Watee. Pagu Ratusan Juta, ketika Ketua Komite tidak mengenal satu sama lain dengan Ketua P2SP, apakah ini yang dinamakan Swakolala ? Ah, itu pertanyaan bodoh. Dalam lakon ini, pertanyaan seperti itu tidak boleh diajukan.
Dan ketika ada yang berani bersuara seperti LSM Trinusa yang mencoba mengirim surat audiensi, suratnya gentayangan. Ketua DPRD bilang belum terima, Ketua Komisi IV bilang belum terima. Surat itu hilang di antara meja dan tanda tangan. Mungkin sedang ikut Bimtek juga.
Lakon ini terus gentayangan dari Blanakan, ke Subang kota, ke 201 sekolah. 17 SDN di Kecamatan Subang pun tak luput. Semua dengan pola yang sama.
Pengusaha lokal? Mereka hanya jadi penonton yang menjerit. Diberi ampas, disuruh mati suri. Karena dalam lakon ini, mereka tidak masuk dalam daftar pemain.
Maka lengkaplah sudah. Lakon revitalisasi ini bukan lagi tentang memperbaiki sekolah untuk anak-anak kita. Ini tentang memperbaiki rekening segelintir orang.
Terstruktur, sistematis, dan gentayangan. Sampai kapan penonton harus terus diam?
–Tim Redaksi Menitsembilan





