
Menitsembilan, Subang– Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah II Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat menggelar aksi pelestarian pesisir melalui program “JUNA” atau Jumat Menanam. Kegiatan penanaman mangrove ini dilaksanakan di Dusun Krajan, Desa Legonwetan, Kecamatan Legonkulon, Kabupaten Subang, sebagai upaya mencegah abrasi dan merehabilitasi kawasan pantai utara.
Aksi yang berlangsung secara gotong royong itu melibatkan jajaran aparatur kehutanan, pemerintah kecamatan, hingga masyarakat setempat. Para peserta turun langsung ke area perairan payau dan berlumpur di sekitar pertambakan warga untuk menanam bibit mangrove baru. Setiap bibit dipasangi penyangga bambu agar lebih kokoh dari hempasan ombak.
Perwakilan CDK Wilayah II menyampaikan, JUNA di pesisir Dusun Krajan merupakan langkah nyata berkelanjutan untuk memulihkan lahan kritis di pesisir Subang.
“Upaya menanam hari ini bukan sekadar rutinitas, melainkan investasi lingkungan hidup yang berkelanjutan demi masa depan kawasan pesisir Subang yang lebih aman dan hijau,” ujar perwakilan CDK Wilayah II di lokasi kegiatan.
Menurutnya, hutan mangrove memiliki peran vital bagi ekosistem pesisir. Pertama, sebagai Benteng Perlindungan Pesisir. Struktur akar mangrove yang rapat berfungsi menahan terjangan ombak besar sekaligus mengikat sedimen tanah untuk mencegah pengikisan atau abrasi.
Kedua, mangrove berperan dalam Restorasi Habitat Biota Laut. Kawasan ini menjadi rumah dan tempat memijah alami bagi kepiting, ikan, dan udang. Kondisi itu berdampak langsung pada peningkatan produktivitas nelayan dan petani tambak lokal.
Ketiga, penanaman mangrove juga menjadi Aksi Mitigasi Perubahan Iklim. Mangrove dikenal sebagai salah satu penyerap karbon alami terbaik yang mendukung terciptanya udara dan lingkungan pesisir yang lebih bersih serta lestari.
Melalui program JUNA, CDK Wilayah II berharap kesadaran masyarakat untuk menjaga ekosistem pesisir terus bertumbuh.
Dengan keterlibatan langsung pemerintah dan warga, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menambah tutupan vegetasi mangrove, tetapi juga memperkuat ketahanan wilayah pesisir Legonwetan terhadap ancaman perubahan iklim dan abrasi di masa mendatang. (Bob).





