
Menitsembilan, Subang— Proyek penambahan bahu jalan provinsi Jawa Barat di ruas Rawabadak hingga Cipaku, Kecamatan Cibogo, Kabupaten Subang, memicu kemarahan warga. Sudah hampir sebulan dikerjakan, proyek itu justru terkesan lambat, berantakan, dan minim rambu pembatas hingga rawan kecelakaan.
Pantauan di lapangan, galian sepanjang bahu jalan dibiarkan terbuka tanpa rambu peringatan yang memadai. Padahal ruas tersebut merupakan jalur padat yang setiap hari dilalui kendaraan besar, karyawan pabrik, dan masyarakat dari pagi hingga malam.
“Ini sudah sebulan lebih digali, tapi kerjanya lambat banget. Lubang-lubang di sepanjang jalan tidak dikasih tanda sama sekali. Malam hari gelap gulita, bahaya sekali. Kami khawatir ada kendaraan yang nyemplung ke galian,” ujar salah satu pengguna jalan yang melintas, Rabu 10 September 2026.
Keluhan serupa datang dari para pelaku usaha di sekitar lokasi. Dampak proyek yang tak kunjung selesai membuat akses ke toko-toko menjadi sulit. Akibatnya omset mereka turun drastis.
“Bagaimana mau ada pembeli, akses ke toko saja susah karena lubang sepanjang jalan tidak bisa dilalui. Mau sampai kapan ini? Sudah digali dibiarkan berlarut-larut, tidak ada pengerjaan lanjutan,” keluh seorang pemilik warung di Cipaku.
Warga juga menyoroti kualitas pekerjaan. Di beberapa titik yang sudah dicor, permukaan jalan sudah terlihat retak-retak dan banyak yang terkelupas. Kondisi itu dinilai tidak mencerminkan standar mutu pekerjaan proyek provinsi.
Minimnya penerangan di malam hari menambah kekhawatiran. Ruas jalan dari Rawabadak-Cipaku dikenal ramai 24 jam karena menjadi jalur utama karyawan perusahaan dan angkutan barang. Tanpa rambu dan lampu peringatan, risiko kecelakaan dinilai semakin tinggi.
Warga dan pelaku usaha mendesak Dinas terkait Provinsi Jawa Barat segera memerintahkan pelaksana proyek untuk mempercepat penyelesaian sekaligus melengkapi rambu-rambu keselamatan dan penerangan.
“Tolong segera diselesaikan saja. Jangan sampai berlarut-larut. Kami butuh jalan yang aman dan layak, bukan galian yang membahayakan,” kata warga.
Jika keluhan ini tidak diindahkan, sebagian warga menyatakan akan melapor langsung kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ke kediamannya di Lembur Pakuan.
“Kami sudah sabar. Kalau tidak ada tanggapan, kami akan temui langsung Pak Gubernur Kang Dedi Mulyadi. Ini menyangkut keselamatan nyawa orang banyak,” tegas warga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat terkait keterlambatan dan minimnya rambu pengamanan di lokasi tersebut.
Warga berharap pemerintah provinsi segera turun tangan sebelum jatuh korban akibat kelalaian di lapangan. (Bob).





